Tingkat fertilitas remaja cenderung meningkat di Indonesia, dari 8,5% menjadi 10% hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia 2007 dan 2012. Fertilitas remaja berimplikasi pada kesakitan dan kematian ibu dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan fertilitas remaja tahun di Jambi. Unit analisis adalah wanita umur subur 20-49 tahun. Data bersumber dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Variabel dependen yaitu fertilitas remaja sedangkan variabel independen meliputi karakteristik sosio-ekonomi dan demografi dan pelayanan dan program KB. Analisis data dengan menggunakan logistic regression. Manfaat penelitian diharapkan sebagai masukan dan intervensi bagi pengelola dan perencana program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga serta masukan bagi pengambil kebijakan pada instansi terkait.
PENDAHULUAN
Indonesia dengan prevalensi fertilitas remaja tertinggi di Asia Tenggara 48 per 1000 perempuan usia 15-19 tahun (SDKI, 2012). Susenas (2015) menunjukkan 23 persen perempuan pernah kawin 20-24 tahun menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Ada 1,1% menikah sebelum 15 tahun dan 3,5% yang menikah sebelum umur 16 tahun. SDKI (2012) sekitar 10% perempuan yang sudah menjadi ibu pada umur 15-19 tahun, di antaranya 7% sudah pernah melahirkan dan 3% sedang hamil anak pertama. Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2007, yaitu persentase wanita yang sudah menjadi ibu di usia remaja mencapai 8,5% (SDKI, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara melahirkan di umur 15-19 tahun terhadap morbiditas dan mortalitas bagi ibu dan bayi. Dampak bagi bayi yang dilahirkan yaitu lahir prematur, berat badan lahir rendah, cacat dan kekurangan gizi, stunting dan mempengaruhi kecerdasan berpikir. Bayi yang dilahirkan dari ibu berusia remaja cenderung mengalami ganggunan mood yang dalam jangka panjang akan mengganggu perkembangan emosi, perilaku dan kognitif (UNFPA, 2017; WHO, 2010; Kemenkes RI, 2010).
PERMASALAHAN
Ada hubungan karakteristik demografi, sosioekonomi, latar belakang suami/pasangan, program kesehatan dan KB terhadap probabilitas kejadian fertilitas remaja (Shahabuddin, et.al, 2016; Hekimoglu, 2015; Dutta dan Sarkar, 2014; Gurmu dan Dejene, 2012; Sayem dan Nury, 2011; Yavuz, 2010; Anderson, 2010; Alemayehu, 2010).
Angka fertilitas remaja di Jambi masih tinggi, hal ini dibuktikan dari hasil SDKI (2012) menunjukkan ada 75 kelahiran dalam 1000 perempuan umur 15-19 tahun di Jambi. Angka ini hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan angka ASFR Nasional (48 per 1.000 perempuan umur 15-19 tahun). Hasil Sensus Penduduk (2010) menunjukkan bahwa proporsi remaja perempuan yang sudah menjadi ibu menurut kabupaten/kota tertinggi di Bungo (25%), Tebo dan Merangin (24%), Sarolangun dan Kerinci (21%).
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian fertilitas remaja untuk mengetahui pola dan perbedaan fertilitas remaja, mengetahui determinan yang berpengaruh pada kejadian fertilitas remaja, dan mengidentifikasi besaran pengaruh masing-masing determinan terhadap fertilitas remaja di Jambi.
![]() |
| Gambar1.Persentase perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun yang menikah sebelum umur 15 tahun, 16 tahun, dan 18 tahun di Jambi, Susenas 2008-2012 |
HASIL PENELITIAN
- Tempat tinggal, pendidikan, Pendidikan suami dan terpapar informasi KB dari majalah/koran merupakan faktor-faktor yang berpengaruh pada fertilitas remaja (umur melahirkan pertama kurang dari 20 tahun) di Jambi
- Model fertilitas remaja: Fertilitas remaja = 0,744 - 0,470*tt_perkotaan - 1,058*didik_menengah - 2,417*didik_tinggi -0,582*majalah_koran_ya - 0,395*didik_suami_menengah - 0,980*didik_suami_ttinggi
IMPLIKASI KEBIJAKAN
- Meningkatkan akses dan cakupan layanan pendidikan seluas-luasnya bagi seluruh remaja untuk bersekolah. Pendidikan menjadi faktor pelindung bagi remaja untuk menunda perkawinan dan melahirkan anak pertama sampai mencapai umur ideal kawin dan melahirkan. Pendidikan memberikan kesempatan untuk hidup sehat, berkualitas, dan produktif sebagai anggota masyarakat.
- Media cetak sebagai salah satu sumber informasi kesehatan reproduksi secara kuantitas dan kualitas diharapkan sampai kepada remaja. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional pusat maupun provinsi diharapkan mampu meningkatkan layanan informasi kesehatan reproduksi bagi remaja melalui media cetak.
- Program dan layanan keluarga berencana khususnya pendewasaan usia perkawinan lebih diarahkan ke perdesaan “rural oriented”. Program bina keluarga remaja dan generasi berencana menjadi program yang sangat penting dalam mempromosikan perencanaan perkawinan bagi remaja.
REFERENSI
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik, dan Macro. (2012). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Macro
Sayem, A. M., & Nury, A. T. M. S. (2011). Factors associated with teenage marital pregnancy among bangladeshi women. Reproductive Health, 8, 16.
Shahabuddin, A. S. M, Nöstlinger, C., Delvaux, T., Sarker, M., BardajÃ, A., Brouwere, V. D., & Broerse, J. E. W. (2016). What influences adolescent girls' decision-making regarding contraceptive methods use and childbearing? A qualitative exploratory study in rangpur district, bangladesh. PLoS One, 11(6).
Gurmu, Eshetu dan Dejene, Tariku (2012). Trends and Differentials of Adolescent Motherhood in Ethiopia: Evidences from 2005 Demographic and Health Survey. African Journal of Reproductive Health. December 2012; 16(4); 162.
Hekimoglu, T. (2015). Adolescent pregnancy: Factors and prevention (Order No. 1585952). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (1672130433).
United Nations Population Fund (UNFPA). (2017). Adolescent Pregnancy. Retrieved from http://www.unfpa.org/adolescent-pregnancy Updated 19 May 2017.
Policy brief ini ditulis oleh Risma Mulia yang dibiayai oleh anggaran DIPA Puslitbang Kependudukantahun 2017. Isi sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.


Trimakasih infromasinya,sangat bermanfaat bagi yang membacanyaa ,semoga suksess selalu mbk adithaa 🤗
BalasHapusSalah satu peran fungsi Duta Generasi Berencana untuk menggalakkan dan menggelorakan program Penundaan Usia Perkawinan (PUP) sebagai upaya penurunan fertilitas remaja, khususnya di Provinsi Jambi. Karena fertilitas remaja yang tinggi akan berimplikasi terhadap kuantitas dan kualitas penduduk di Indonesia secara umum. Informasi mengenai kesehatan reproduksi perlu terus di KIE (komunikasi, informasi, edukasi) kan kepada khalayak luas. Terima kasih atas kerjasama yang sudah terjalin selama ini. Semoga keberkahan bersama kita. Salam Generasi Berencana, yang Muda yang Berencana.
BalasHapusPosting Komentar